“Mulutmu Harimaumu”, begitu kata pribahasa dulu. Artinya,
jika kita salah berucap, bisa2 mulut kita membinasakan kita. Dari
sekedar pertengkaran, perceraian, perkelahian, hingga pembunuhan bisa
berasal dari lidah/ucapan yang tajam.
Dalam Islam juga kita disuruh menjaga
lidah kita. Betapa banyak orang yang masuk neraka akibat tidak bisa
menjaga lidah. Suka mencaci-maki orang lain.
PERKATAAN
atau kalimat yang baik ibarat pohon tinggi yang kokoh. Sedangkan
perkataan atau kalimat yang buruk ibarat pohon runtuh. Itulah gambaran
yang diberikan Allah SWT dalam firman-Nya, Q.S.Ibrahim ayat 24.
"Tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti
TIDAK
ada ajaran dalam agama Islam yang menganjurkan kita untuk menjadi orang
yang harus tampil di semua bidang. Sifat kerendahan diri sangat
digalakkan. Setiap muslim harus berhati-hati dengan apa yang ia
bicarakan. Bahkan Islam mengajarkan kita untuk diam, kalau memang apa
yang dibicarakan itu bukan bidangnya.
"Dan janganlah kau berdiri (berbicara) pada sesuatu yang kau tidak ketahui" (QS Al-Isra: 36).
"ALLAH, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah,
kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat.
Kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban.
Dia menjadikan apa saja yang dikehendakiNya, dan Dialah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Kuasa." (Q.S. Ar Rum: 54).
BOROS bisa berarti menghamburkan harta. Padahal yang tidak
berguna bagi diri dan orang lain serta tidak diridai Allah bisa merusak
diri dan orang lain.
Orang yang boros adalah orang yang durhaka kepada Allah SW yang
memerintahkan hamba-Nya untuk tidak boros sebagaimana firman-Nya, "Dan
janganlah kamu menghambur-hamburkan
ISLAM adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda. Alquran banyak menceritakan potret mengenai pemuda.
Pemuda Ashabul Kahfi yang ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun demi
menyelamatkan iman, kisah pemuda Ashabul Ukhdud yang menceritakan
tentang pemuda yang tegar dalam keimanannya
MENJADI
haji tidak sebatas menyandang gelar di depan setelah menunaikan Rukun
Islam kelima. Namun perlu pembuktian nyata di tengah kehidupan
sehari-hari, baik bagi pribadi masing-masing, keluarga, masyarakat
terdekat maupun bangsa dan negara.
Sebab sejak mengenakan ihram di miqat, setiap orang yang berhaji sudah
mengucapkan ikrar lewat